Remaja Belajar Berkomunitas Bersama Di Sanggar

Terhitung sudah lebih dari 2 bulan saya berkegiatan bersama teman-teman Sanggar Merah Merdeka. Kehadiran saya di tempat ini semula hanya berawal dari kegiatan Magang untuk konversi SKS, namun dibalik itu saya menemukan beragam pengalaman menarik dari sini.

Sebelumnya kegiatan sanggar yang saya bayangkan adalah mengajar teman-teman usia TK-SD. Partisipasi saya di awal pertemuan juga hanya melakukan kegiatan mengajar. Memilih materi pembelajaran, menyampaikan materi, memberi latihan soal, hingga mengoreksi satu per satu hasil pekerjaan teman-teman. Di balik itu, saya menyadari adanya interaksi yang signifikan selalu nampak di setiap sikap teman-teman. Setiap hari senin dan selasa, remaja sanggar harus mempersiapkan tempat, materi, dan mental untuk mengajar. Di sela-sela rutinitas wajib sekolah mereka tetap menyisihkan sedikit waktu demi kegiatan bersama sanggar. Tidak bekerja sendiri, remaja memiliki tim yang dengan porsi pembagian tugas yang adil.

Kondisi keterbatasan waktu dan tenaga membuat mereka kesulitan mengelola kegiatan sanggar. Remaja masih duduk di bangku SMA/SMK. Pengalaman mengelola komunitas mungkin hanya mereka dapatkan di sekolah, namun bagaimana bisa mereka tetap bertahan selama bertahun-tahun untuk keberlanjutan sanggar. Mereka menghabiskan seluruh waktunya di sanggar untuk belajar dan bermain sejak usia kecil. Dalam setiap pertemuan saya selalu mengamati bagaimana mereka menggerakkan anggota timnya, menghimpun anak-anak untuk belajar meski sedang hujan. Ternyata di balik itu mereka menyimpan semangat dan harapan besar. Remaja sadar bahwa mereka berkembang lewat sanggar. Mereka mengembangkan bakat dan akademiknya lewat sanggar. Rasa bangga atas keberhasilan itu mereka perlihatkan dalam bentuk loyalitas, meluangkan waktu dan sisa tenaga mereka demi lebih banyak anak lain juga merasakan hal yang sama di masa depan. Saya salut mereka tetap rendah hati untuk setiap kondisi, bantuan, dan dukungan emosional lain yang mereka dapat dari berbagai pihak yang bekerja sama. Saya harap kehangatan komunitas ini selalu membawa mereka untuk belajar, menaruh mimpi setinggi mungkin untuk menjadi pribadi yang lebih mapan, dewasa, dan berkualitas agar bermanfaat di kehidupan mendatang. (Rafaela Nisita Karunia Kristomo, Mahasiswi Jurusan Sosiologi, UNESA).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *