Ketika aku diberikan kesempatan untuk bisa berbagi sedikit ilmu yang aku punya buat mereka. Mungkin terkesan hal yang sederhana, tapi aku bisa mengambil peran di dalam bagian ini. Memang tidak lama hanya dua jam. Namun dalam waktu sesingkat itu, aku belajar begitu banyak dari mereka. Tentang arti hadir di tengah kesibukan yang padat, tentang kasih sayang tulus yang mengalir tanpa syarat, dan cerita-cerita penuh antusias yang selalu kutunggu. Pada akhirnya, yang mereka inginkan sebenarnya sederhana: didengarkan, dihargai keberadaannya, dan disapa dengan hangat“Bagaimana kabarmu hari ini?”

Aku juga belajar menjadi mentor yang lebih baik, dengan mencoba memahami situasi dan kondisi setiap anak. Setiap anak punya cara belajar dan latar belakang yang berbeda, jadi aku belajar untuk tidak menyamaratakan mereka. Dari situ, aku juga belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi berbagai sikap dan respon mereka. Saat mengajar, aku berusaha dalam suasana hati yang menyenangkan, tanpa tekanan, agar mereka merasa nyaman untuk belajar. Dari pengalaman itu, aku semakin sadar bahwa kebanyakan anak sebenarnya tidak membutuhkan tuntutan yang berlebihan. Mereka lebih butuh dukungan, didorong, dan diberi semangat. Ketika mereka melakukan kesalahan, bukan kata-kata kasar yang mereka perlukan, tapi arahan yang baik agar mereka bisa belajar dan memperbaiki diri. Mereka butuh dituntun dan dibimbing dengan pendekatan yang lebih lembut, penuh perhatian, dan kesabaran, terutama mereka masih berada di usia yang sangat dini, di mana cara kita memperlakukan mereka akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya.


Aku tidak pernah tahu sampai kapan bisa menemani dan mendampingi mereka di sini. Namun selama waktu itu masih ada, aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati dan mengupayakan yang terbaik untuk mereka. Karena pada akhirnya, mungkin bukan seberapa lama kebersamaan itu, tetapi seberapa tulus kita hadir dan memberi arti di dalamnya. (Kasih Eka Lestari, Remaja SMM Unit Tales)
