Rabu sore di Sanggar Merah Merdeka unit Lebak, sebelum sesi belajar komputer dimulai, anak-anak selalu punya banyak cerita. Ada yang datang dengan wajah ceria, ada pula yang tampak murung. Di antara tawa dan canda, mereka membawa dunia kecil mereka sendiri—dunia yang penuh kejutan dan hal-hal sederhana yang sering kita, orang dewasa, anggap sepele.

Suasana Belajar Komputer di SMM unit Lebak
Seperti pada beberapa saat lalu, saat kelas baru saja akan dimulai, seorang anak perempuan menghampiri dengan wajah memohon. “Kak, kami mau cerita-cerita dulu ya sebelum mulai belajar” katanya dengan penuh semangat. Di sudut lain, ada juga anak yang tampak antusias mendengar apa yang diceritakan oleh teman-temannya sambil sesekali bereaksi karena cerita temannya.
Mendengarkan cerita-cerita dari mereka mungkin terdengar sederhana, tapi sebenarnya tidak. Ada kalanya kita sebagai pendamping, ingin segera memulai kelas dan melewatkan momen-momen ini. Namun, justru di saat seperti itulah, anak-anak merasa didengar dan dihargai. Mendengarkan mereka bukan sekadar aktivitas, melainkan cara memahami lebih dalam perasaan dan impian kecil mereka.
Terkadang, cerita yang mereka sampaikan terasa berulang atau bahkan tidak terlalu penting di mata kita. Namun, dengan bersedia mendengar, kita membantu mereka membangun rasa percaya diri dan memberikan ruang bagi mereka untuk berbagi, tanpa rasa takut dihakimi.
Baca juga: Sanggar Merah Merdeka, Rangkul Anak-anak Jalanan dan Kaum Marjinal di Surabaya
Di Sanggar Merah Merdeka, belajar komputer menjadi semacam suplemen dengan tujuan utama adalah mendengarkan dengan hati. Sebab, bagi anak-anak, didengar berarti mereka merasa dihargai, dan bagi kita, mendengar berarti memahami lebih dalam dunia mereka yang penuh warna.(OC)
