Aku Sebuah Proses (Bagian 3)

Selasa, 7 Agustus 2018 (Bagian 2: Interpersonal is The Key) Kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti normal sampai pada pertengahan. Dimana kami menjalankan masing – masing tugas yang diserahkan oleh pihak Sanggar Merah Merdeka. Selama kami live in di Kampung Tales, terdapat beberapa perarturan yang harus kami terapkan. Salah satu perarturan tersebut “tidak diijinkan untuk memberikan reward ; hadiah ; materi ; segala sesuatu yang berbentuk fisik kepada warga kampong Tales (termasuk anak – anak), tanpa melalui pihak sanggar”.

Karena adanya perarturan ini, kami mendapatkan teguran keras oleh pihak pimpinan Sanggar Merah Merdeka. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan Livia salah satu anggota kelompok kami membawa tas yang didalamnya terdapat cokelat. Pada saat itu anak  – anak sedang bergurau dengan kami, sehingga Livia tidak sadar akan tasnya yang dibuka oleh anak – anak dan mengambil coklat tersebut. Sehingga, memunculkan rasa iri dari anak – anak yang tidak menerima cokelat tersebut terhadap anak – anak yang menerima coklat dari tas Livia. Inilah yang menjadikan kami mendapatkan teguran, berupa chatting whatsapp yang diberikan oleh pimpinan sanggar. Ahkirnya kami meminta maaf atas kejadian tersebut, padasaat malam evaluasi di sanggar. Saya sebagai orang yang setidaknya mengerti akan kejadian ini, berinisiatif untuk membuka jalan agar setidaknya hubungan antara kami dan pihak sanggar menjadi membaik. Kami dapat menjalankan tugas live in dengan baik dan dapat saling bersinergis.

Ya benar interpersonal is the key. Saya menggunakan hubungan dan kemampuan interpersonal saya pada saat itu. Kami dan Mas Heru kami memiliki tujuan yang sama yaitu jiwa kemanusiaan, sosial dan seorang aktivis yang ingin memikirkan keadaan masyarakat yang memiliki kekurangan. Dari situ kami mencoba untuk “duduk bersama” dengan pihak sanggar dan sekaligus teman – teman untuk meminta maaf kembali. Saya berefleksi pada saat itu juga tentang kegiatan live in yang kami lakukan berkaitan dengan perarturan yang dibentuk. “Ini semua adalah berkaitan dengan jiwa kemanusiaan, ini masyarakat perkotaan urbanisasi, dan adanya perarturan menunjukan keseriusan mereka (pihak sanggar) terhadap aksi kemanusiaan” saya sangat menghormati hal tersebut inilah etika saya sebagai sesama aktivis kemanusiaan.

Etika saya sebagai seorang mahasiswa psikologi, saya menghargai cara pandang pihak sanggar dalam melaksanakan kegiatan ini.  Mendengar dan memahami adalah kewajiban kami sebagai calon sarjana psikologi. Apabila, kami melakukan kesalahan kewajiban sosial yang kami lakukan meminta maaf terlebih dahulu. Pada ahkirnya semua berjalan dengan baik selama tiga minggu kami melakukan live in.

        *) Senin – Rabu, 13 – 16 Agustus 2018. (Independence Day) . Selama tiga hari kami disibukan dengan segala bentuk persiapan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke – 73. Kami disibukan oleh beberapa persiapan untuk pelaksanaan pentas di Kampung Tales, setidaknya ada 16 tampilan ( 8 anak – anak ; 8 ibu – ibu ) yang menjadi persiapan kami. Beberapa dari kami membantu untuk membuat gerakan tari (Livia dan Gigih) untuk beberapa kelas yaitu : kelas kecil, menengah dan beberapa anak  – anak balita. Sedangkan untuk penampilan menyanyi ada Darmo, Lia dan Dita (anggota sanggar) untuk membantu menyiapkan penampilan bernyanyi beregu, lagunya ialah Indonesia Pusaka dan Indonesia Raya.

Sedangkan, saya bersama Mas Rowi (anggota sanggar) membantu menyiapkan susunan acara dan mendampingi anak – anak tari kelas. Pembagian tugas tersebut dilakukan secara spontanitas dan kerinduan kami untuk mendampingi anak – anak di Kampung Tales. Tentunya, lebih tepatnya kami adalah anak Indonesia dan kami rindu masa – masa kami ikut serta di tempat tinggal kami untuk melakukan penampilan perayaan hari kemerdekan. Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Inilah proses yang mungkin melelahkan bagi saya sekaligus menjadikan saya mengerti untuk berhadapan dengan anak – anak. Iya, saya sekarang saat ini berfokus pada bidang perkuliahan psikologi industri dan organisasi, namun bekal saya di awal masa perkuliahan mengenai psikologi perkembangan sangat bermanfaat. Cara pandang saya sebagai mahasiswa psikologi terhadap anak – anak menjadi berkembang.

Pada waktu pelaksanaan latihan banyak hal yang terjadi (ditempat saya mendampingi kelas tari sedang), seperti : semangat anak – anak yang tinggi, rasa ingin untuk memberikan penampilan yang terbaik, saling mengkoreksi terhadap gerakan tari, rasa bosan pada saat latihan,dan rasa memiliki satu sama lain apabila ada satu teman yang tidak hadir, itulah yang terpenting. Ketika, mereka merasa bosan latihan menjadi tugas saya untuk setidaknya menghibur mereka. Memuji atas kehebatan anak – anak ( reward ) hal yang menjadikan mereka lebih semangat menjalani latihan. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga mood mereka dalam melakukan latihan, agar tetap berkosentrasi pada saat latihan.

Pada tanggal 15 Agustus 2018 , kami mengadakan gladi bersih di Sanggar Merah Merdeka. Itulah hari terahkir kami mengadakan latihan persiapan sebelum pementasan. Hal yang paling saya sukai ketika saya, ketika saya “menjemputi” anak – anak di Kampung Tales untuk menuju ke Sanggar. Jarak antara Kampung Tales menuju Sanggar Merah Merdeka cukup jauh, apabila ditempuh bila berjalan. “Aku bareng Mas iku, sing dhuwur, putih (Darmo) ; Aku ambe mas sing koyok wedhok sing banter ya mas.. ben seru (Bima) iya itulah sebutan kami di mata anak – anak Kampung Tales. Setidaknya, penggalan pembicaraan itu menunjukan kedekatan dan keakraban kami dengan anak – anak disana.

Iya, hanya kami para laki – laki kelompok kami dan anggota sanggar yaitu Dita, Mas Rowi dan Rudi. Hari itu adalah hari yang paling melelahkan di kegiatan live in kami, mengatur anak – anak untuk sesuai dengan aturan dan tata urutan rundown acara gladi bersih. Melelahkan dan menyenangkan dari sana kami merasa tidak ada batasan diantara kami terhadap anak – anak. Mulai dari tarian mbok jamu, tarian yamko rambe yamko, tarian menthok, lagu ceria, membaca puisi, lagu Indonesia Raya ; Indonesia Pusaka dan berbagai tampilan telah selesai ditampilkan pada acara gladi bersih. Waktu kami pulang pun kami kembali mengantar anak – anak hingga sampai ke rumah mereka masing – masing. Itulah hari yang paling melelahkan pada kegiatan live in kami.

Hari pementasan 16 Agutus 2016,  malam “tirakatan” untuk memperingati dan mereningkan kemerdekaan Indonesia yang 73 tahun. Melihat anak – anak Kampung Tales mementaskan penampilan yang sudah mereka latih untuk beberapa hari sebelumnya. Dandanan mereka yang menurut kami totalitas dan meriah menjadi hiburan bagi kelompok kami. Untuk hari itu adalah kegiatan teringan kami selama kami live in, kami hanya menikmati hiruk pikuk keramaian di kampong Tales. Para kelompok ibu bergurau dan bercanda, panitia menyiapkan urutan acara, dan anak – anak menyiapkan dengan mulai dari dandan make up sampai mengganti kostum.

Kami berlima hanya duduk dan menikmati tampilan yang disuguhkan para warga di Kampung Tales. Disinilah kami sadar bahwa senyum dan tawa dari warga yang rukun tidak dapat dibeli dengan kepintaran akan teori, pendidikan yang tinggi, dan segala latar belakang mereka menjadi satu yaitu warga Kampung Tales yang bersyukur telah diberi kemerdekaan oleh Sang Pencipta mereka. Selamat ulang tahun Indonesiaku, selamat berumur 73 tahun, hidup Indonesiaku Tanah Air Kelahiranku. Merdeka Merdeka Merdeka!

 

Bima Wicaksana

Mahasiswa S1 Psikologi UBAYA

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.