Proses Panjang Perbaikan Data Ijasah

Ini pengalaman pertama saya memperbaiki ijazah yang keliru penulisan nama, tanggal, dan tahun kelahiran. Saya sebenarnya sudah pernah mencoba untuk mengurus perbaikan datanya. Namun sekolah dimana saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD) sudah tutup, sehingga harus mengurusnya ke Dinas Pendidikkan (Dispendik) setempat untuk minta surat keterangan salah penulisan biodata diri di ijazah.

Akhirnya saya mencoba untuk ke Dispendik dengan bersama Mbak Lufita, tetapi tetap tidak bisa karena kami diminta untuk menunjukkan akta kelahiran. Ketika itu saya masih belum memilikinya. Hingga harus menunda dulu pengurusan surat keterangan tersebut sampai saya sudah mempunyai akta kelahiran.

Setelah sekian lama saya melupakan persoalan itu, baru saat menginjak kelas XII saya kembali ingat kalau ada pengurusan dokumen yang tertunda. Berawal dari obrolan tentang persoalan kuliah dengan Mbak Sari. Saya bilang ke beliau bahwa identitas yang tertera di ijazah tidak sesuai dengan akta dan kartu keluarga. Dengan gerak cepat atau gercep, mbak Sari menyuruh saya untuk segera memperbaikinya.

Pada hari itu juga saya langsung bergegas ke Dispendik bersama salah seorang temen dan dengan dipandu Mbak Sari melalui aplikasi Whatsapp. Hari pertama saya disuruh menemui Ibu Diah, tetapi yang bersangkutan sedang tidak berada di lokasi.

Hari kedua alhamdulillah bisa bertemu dengan Ibu Diah, tetapi ternyata Dispendik tidak berani membuatkan surat keterangan itu karena terbitnya akta dan ijazah SD lebih dulu ijazah saya. Dispendik baru berani membuatkan jika saya mempunyai surat keterangan lahir yang terbit sebelum ijazah SD atau pihak Pengadilan Negeri Surabaya memberi rekomendasi kepada Dinas Kependudukkan (Dispenduk) untuk membuatkannya.

Awalnya Ibu Diah menyarankan saya untuk mendatangi Dispenduk menanyakan data diri saya apakah dibuat sebelum tahun 2015.

Tanpa pikir panjang, keesokan harinya saya langsung menuju ke Dispenduk. Sebelum berangkat ke Dispenduk, saya coba bertanya kepada Mbak Lufita tentang jam operasional. Sesampainya di tujuan, memang data yang ada menunjukkan bahwa akta kelahiran saya baru terbuat tahun 2018. Mengetahui hal itu saya meminta saran ke pegawai Dispenduk cara memperbiki Ijazah. Orang Dispenduk menyampaikan bahwa akta kelahiran sudah cukup digunakan sebagai bukti dalam pengurusan perbaikan data ijasah.

Hari ke 4 saya kembali ke Dispendik untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh Dispenduk sebelumhya. Ibu Diah mengatakan apa yang dikatakan Dispenduk memang benar adanya, tetapi itu akan berpengaruh untuk Dispendik. Lalu beliau menyarankan untuk ke pengadilan. Hal ini cukup menguras energi hingga membuat saya hampir menyerah. Namun saya harus tetap semangat mengingat dokumen ini amat berpengaruh terhadap masa depan saya.

Hari ke 5 bersama dengan tetangga rumah, saya pergi ke pengadilan. Disana saya diarahkan sama satpam untuk ke Pos Bantuan Hukum (Posbakum). Saat itu saya ditemui oleh Ibu Enny. Kami pun langsung menjelaskan kepada beliau tujuan kami yakni untuk meminta solusi terkait permasalahan yang saya alami. Beliau  langsung menjelaskan langkah yang harus yang tempuh. Sayangnya ketika sudah tiba di rumah, kami berdua belum paham petunjuk yang diberikan oleh Ibu Enny. Akhirnya saya menceritakan kejadian ini ke Mbak Sari.

Memasuki hari keenam, tiba-tiba saya di chat sama Mbak Vero. Beliau bersedia menolong saya untuk proses pengurusan awal di pengadilan. Akhirnya kami pun berdua pergi ke pengadilan. Sama seperti sebelumnya, kami langsung menuju Posbakum. Kemudian menuju ke E-Court (layanan bagi Pengguna Terdaftar untuk Pendaftaran Perkara Secara online) untuk konsultasi mengenai permasalahan tersebut. Setelah mengobrol lama akhirnya dikasih petunjuk pihak terkait agar menyiapkan berkas-berkas dan surat permohonan.

Setelah muter-muter menyiapkan berkas, kami kembali ke E-court lagi. Ternyata pelayanan E-court sudah tutup. Walau sudah tutup, pihak yang berjaga di E-Court masih bersedia melayani kami. Setelah selesai kami pun pulang.

Misi pengurusan dilanjutkan keesokan harinya. Kali ini bersama Ibu, saya kembali lagi ke Pengadilan Negeri Surabaya untuk menyerahkan berkas-berkas dan membayar biaya pendaftaran. Setelah selesai kami kembali ke rumah serta menunggu panggilan dari pihak pengadilan untuk proses sidang.

Beberapa hari kemudian saya ditelepon untuk proses sidang. Awalnya saya ke tempat informasi untuk membayar biaya persidangan dan diberitahu bahwa harus menyediakan 2 orang saksi. Di situ saya kaget, karena informasi ini tidak diberitahu sebelumnya. Saya sempat kebingungan mencari saksi, karena saudara dan tetangga pada sibuk bekerja. Akhirnya saya mencoba menghubungi kakak saya dan di sarankan Mbak Sari untuk menghubungi Mbak Dita. Alhamdulillah, keduanya bisa datang. Persidangan pun selesai dengan lancar dan setelah menunggu hasil persidangan selama beberapa hari aku memperoleh surat yang langsung dibawa ke dispendik. Dispendikpun mau merubah data-data yang keliru.

Dari proses itu saya bisa belajar banyak dan juga ijasahku jika sudah lulus sekolah bisa buat melamar kerja dan kuliah jika ada rejeki.

Ditulis oleh Firda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.