Mendidik Anak Agar Mampu Memecahkan Masalah

Di abad 21 anak tidak hanya perlu pengetahuan yang cukup namun juga perlu keterampilan khusus supaya mampu menghadapai komplesitas kehidupan. Kamamampuan berfikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah sangat diperlukan. Jika pengetahun bisa di peroleh dari buku atau mesin pencari Google, namun sejumah keterampilan dibentuk melalui pengalaman.

Anak-anak perlu dihadapkan pada permasalah nyata sehingga mampun melihat suatu persoalan dengan cara pandang yang berbeda. Anak juga perlu belajar untuk dapat melakukan refleksi, analisa dan solusi sebagai jalan untuk keluar dari permasalahan.

Berikut langkah orangtua untuk mendukung anak memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik, merangkum laman Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud):

1. Beri kesempatan anak berbuat salah Perlu disadari, dalam hal ini orang tua sedang mengajarkan anak untuk terampil dalam hidup (life skill), bukan sedang menciptakan manusia super tanpa kesalahan. Jadi, beri kesempatan pada anak untuk melakukan kesalahan dan dorong untuk memecahkan masalahnya sendiri.

Setelah anak mengutarakan solusi, terima dahulu pemikirannya, setelah itu bersama-sama dengan anak untuk mengatasinya.

2. Latih dengan permainan Tak perlu menunggu sampai anak berbuat kesalahan. Kemampuan memecahkan masalah juga dapat dilatih melalui permainan edukatif. Gunakan metode permainan agar lebih mengasyikkan dan membuat anak tidak merasa tertuntut dan tertekan dalam menerima pembelajaran tersebut. Orang tua perlu memahami kemampuan anak sesuai usianya agar metode pembelajaran dan pola asuh bisa sesuai dengan perkembangan anak.

3. Jadi contoh Orang tua adalah model perilaku bagi anak-anak, termasuk dalam hal memecahkan masalah.

Apabila orang tua selalu menunjukkan reaksi marah dengan suara keras serta mengumpat saat menghadapi masalah, maka anak akan belajar melakukan hal yang sama dalam menghadapi masalahnya. Maka, orangtua juga perlu belajar untuk menunjukkan perilaku baik dalam menghadapi masalah agar dapat ditiru anak.

4. Komunikasi dua arah Jalinlah komunikasi dua arah yang baik antara orang tua dan anak. Keterampilan komunikasi yang dimiliki orang tua dapat memperlancar tujuan pembelajaran pada anak. Komunikasi bukan hanya sekedar memberikan instruksi bagi anak, tetapi juga harus terampil memberikan feedback secara asertif, serta terampil mengomunikasikan dukungan positif bagi pembentukan perilaku anak.

5. Selesaikan dengan berbicara Sering mengajak anak berkomunikasi dua arah secara tidak langsung juga membiasakan anak untuk menyelesaikan masalah dengan berbicara. Berikan pemahaman pada anak tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang baik. Tidak perlu ada agresi fisik seperti memukul, mencubit atau bahkan menggigit. Tunjukkan bahwa penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan dialog. Cara ini mungkin akan terdengar sulit dilakukan anak balita, namun balita akan mampu melakukannya jika ada dukungan dari orangtua. Dukungan tak sekadar petunjuk, namun lebih pada contoh perilaku yang ditunjukkan orangtua.

6. Identifikasi Masalah Anak bisa menjadi uring-uringan karena perasannya tidak enak. karena itulah, anak perlu diajarkan untuk mengindentifikasi masalah atau perasaan gusar yang sedang ia rasakan sejak dini.

Misalnya, ketika anak bertengkar dengan temannya, minta anak untuk duduk bersabar dan tanyakan masalah apa yang sebenarnya terjadi.

7. Jangan buru-buru ikut campur Jika anak sudah tahu apa akar masalahnya, maka coba hargai pendapat anak dan berikan mereka kepercayaan bahwa ia akan dapat menemukan solusinya. Meski tak jarang hal ini akan membuat ia berlari dan meminta bantuan orang dewasa untuk dapat menyelesaikan konflik, akan tetapi tetap berikan ruang dan kepercayaan. Caranya, minta anak berpikir kira-kira solusi apa yang bisa ia lakukan. Bila anak benar-benar bingung, orangtua bisa mulai memberikan beberapa solusi, lalu minta anak memilihnya.

Selain itu, tanyakan pula alasannya mengapa anak memilih cara tersebut. 8. Melatih empati Anak dengan usia 3-4 tahun sudah mulai bisa menunjukkan rasa empatinya terhadap orang lain. Namun, sifat egosentris masih cukup kuat di diri anak. Untuk mengasah kemampuan si anak mengenali perasaan orang lain, ajaklah ia untuk mengenali bahasa tubuh dan ekspresi yang dimunculkan oleh temannya. Dari sini, anak-anak akan dibiasakan menentukan perbuatannya terhadap orang lain.

Sumber: Kompas.com

Foto: femaleradio.co.id


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.