Berbagi Kasih Itu Menyenangkan

Bagi saya, Sanggar buka hanya tempat bagi adik-adik sekalin untuk belajar. Bukan hanya tempat bagi kami sukarelawan dan guru-guru sekalian untuk mengajar. Tidak hanya tempat untuk mencari teman. Dan apalagi hanya tempat untuk mengisi waktu luang dan kebosanan. Sanggar bukanlah sekedar tempat nama belaka, melainkan sebuah sarana bagi kami untuk saling memperhatikan, mengasihi, belajar dan berbagi cerita mengenai senang dan susahnya hidup.
 
Melalui empat minggu proses belajar dan mengajar di sanggar, saya secara pribadi mempelajari banyak hal baik, hardskill dan softskill. Hardskill yang saya pelajari adalah bagaimana mengusung tema pembelajaran yang sesuai dengan kelasnya. Sebelum memberikan materi, saya bersama dengan teman-teman juga mereview terlebih dahulu mengenai materi yang akan kami berikan hari itu. Selain itu, juga memperlancar bahasa jawa yang sudah lama tidak saya gunakan.
 
Lalu, softskill yang saya dapatkan adalah bagaimana mengatur waktu, ketika kami pergi ke kampus dipagi hari, pulang di sore hari, dan harus melanjutkan kegiatan di sanggar. Disini, saya harus pintar-pintarnya membagi waktu antara belajar, bemain dan beristirahat. Disanggar sendiri kami juga harus mengatur waktu untuk koodinasi, bermain games, waktu pembelajaran, serta evaluasi agar segalanya bejalan sesuai rencana.
 
Saya juga lebih pandai berkomunikasi dan berkoordinasi, terutama dengan anak-anak, dibandingkan sebelum kami mengajar di sanggar. Mengingat bahwa komunikasi adalah 2 arah sehingga kami juga tidak boleh egois untuk memaksakan kehendak kami tanpa mendengarkan keinginan pihak yang kami ajak bicara.
 
Selain itu, saya juga merasa menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab akan pilihan saya. Ketika kami memilih untuk menyampaikan materi yang sudah kami persiapkan, tentu saja kami tidak boleh menyerah untuk menyampaikan materi itu meskipun anak-anak susah untuk mengerti.
 
Saya juga belajar dari anak-anak yang selalu semangat untuk belajar dan penasaran mengenai hal-hal baru. Jujur saja, kegigihan dan kemampuan mereka untuk belajar melampui jauh dari ekspektasi kami. Hal ini membuat saya semakin sadar bahwa bukan lingkungan yang menentukan anda menjadi apa, namun diri anda sendirilah yang menentukan anda akan menjadi apa. Dan hal terakhir yang akan selalu saya ingat adalah bahwa saya harus menjadi pribadi yang lebih bersyukur.
 
Teman-teman di sanggar ada yang memiliki kesempatan untuk diperhatikan oleh kedua orang tuanya, ada juga yang orang tuanya terlalu sibuk sehingga tidak memiliki kesempatan untuk memperhatikan anaknya secara langsung. Hanya beberapa dari mereka yang benar-benar menikmati kemajuan teknologi yang sangat berkembang pesat.
Namun, mereka tetap dapat menikmati dan mensyukuri hidup yang telah diberikan Sang Pencipta. Justru karena kekuranggan yang mereka miliki, mereka menjadi anak-anak yang lebih pintar dan kuat untuk menghadapi sesuatu.
 
Oleh sebab itu, bukan hanya karena saya memiliki kesempatan untuk mendapatkan edukasi yang lebih baik dan sarana serta prasarana yang mendukung, melainkan saya harusnya lebih bersyukur karena memiliki kedua orang tua yang sanggat mendukung akan segala pilihan yang saya ambil, serta teman-teman dan lingkungan sekitar yang selalu ada buat saya. Dan karena rasa sukur itu, saya juga harus membagikan apa yang saya rasakan kepada anak-anak lainnya.
 
Saya ingat bahwa saya diajarkan untuk mengasihi sesama tanpa pandang bulu, baik miskin maupun kaya, agamanya apa serta asalnya dari mana. Karena kebahagian tidak berarti ketika saya telah memiliki segalanya, tetapi ketika saya dapat membahagiakan orang lain dengan cara membagikan apa yang saya miliki termasuk ilmu pengetahuan dan kasih kepada teman-teman dan adik-adik sekalian.
 
Alicia Mulyono
Mahasiswi Unversitas Kristen Petra
 
#ukpetra
#mahasiswa
#relawan
#sosial
#berbagiituindah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.