Jatuh Cinta Pada Sanggar Merah Merdeka

Dimulai dari mana saya harus bercerita , saya juga tidak tahu .

Pertanyaan teman-teman ke saya hampir sama, kok bisa saya berinteraksi lagi dengan sanggar setelah sekian tahun di masa kecil saya. Dapat apa?

 

Saya tidak dapat uang disini, tapi saya dapat berlian!!

Silahkan baca sampai habis tulisan saya ini…

Mungkin tidak rapi karena saya tidak pernah menulis …

 

Yang saya tahu , sanggar beserta pembinanya tidak akan pernah tergantikan di dalam hati saya. Sampai saat ini saya tumbuh dengan belajar bersosialisasi dan beberapa kali ikut berorganisasi di rumah. Saya juga memberanikan diri ikut kegiatan dalam lingkungan masyarakat tempat saya tinggal. Itu semua karena sanggar merah merdeka yang mengajarkan banyak hal tentang bersosialisasi, membantu tanpa perlu pamrih, khususnya bermain lepas dengan anak-anak. Mereka tertawa dan bahagia karena kita relawan adalah termasuk rejeki hati.

 

Jadi mungkin saya merasa flashback. Ketika saya dulu sekecil mereka, adik-adik sanggar juga dihibur, ditemani oleh kakak-kakak relawan pada saat itu dan saya merasa bahagia. Sekarang waktunya saya untuk menghibur mereka, tertawa bersama mereka, mensuport mereka dan sedikit menjadi kakak yang bersedia memberi nasihat-nasihat bijak untuk mereka. Karena kita sama. Kita hidup untuk belajar dan mengajar. Dalam hati saya, sambil memandang mereka, saya berharap adik-adik manis ini adalah calon-calon relawan yang berjiwa sosial yang akan lebih membesarkan sanggar ini nantinya .

 

Suatu kehormatan bisa ikut dalam kegiatan sanggar waktu itu. Saya memetik sebuah pelajaran berharga waktu itu… Punya kesempatan ikut mengisi soal pembelajaran sampah. Dari apa itu sampah dan dampaknya. Dalam obrolan dengan anak-anak, saya coba memberikan support  agar tidak takut menegur jika ada orang dewasa yang membuang sampah sembarangan di depan mata mereka. Karena mereka adalah pahlawan.

 

Seketika ada anak yang bertanya pada saya?

Pahlawan apa? Dan kenapa kok pahlawan?

Saya tersenyum karena dibalik wajah polosnya mereka, ternyata mereka pintar-pintar dan saya bersyukur karena mereka bertanya berarti mereka menyimak obrolan kami.

 

Lalu Saya menjawab pertanyaan ank-anak

Pahlawan Bumi namanya .

Dan karena kalian menyelamatkan bumi dari sampah . Kalian kan juga tinggal di bumi kan?

Serentak semuanya tertawa lepas

 

Kemudian ada yang bertanya,”Kakak-kakak …  bapak aku juga pahlawan lo..”  Kata adek Novan.

“Oh iyaa dong pasti”. Jawabku.

“Iya , bapakku ambili sampah di taman.” Lanjut adek Novan.

it is okey … bapaknya benar-benar spesial pahlawan kalau begitu yaa…” Jawab saya.

Kemudian dia jawab, “Iyaa buanyak sampahnya botol yang diambil tapi tidak dibuang di tempat sampah. Sayang, katanya. Jadi dijual sehingga dapat uang. Uuenak kan..?

 

Saya hanya termenung dan di situ Tuhan hadir untuk mengetuk hati saya sebagai seorang ibu dan orang tua. Bahwa setiap anak tidak perlu artis atau orang lain yang baik untuk menjadi bintang/pahlawan mereka. Tetapi … yah … orang tualah pahlawan yang sebenarnya di hati mereka. Jadi seperti yang saya bilang di awal tulisan ini, saya tidak akan mendapat uang di sini tapi saya dapat berlian. Dengan bergabung di sanggar dan berinteraksi dengan adik-adik sanggar sangatlah menguatkan rohani saya untuk lebih bijak dan yang mulanya saya ingin kasih saran-saran bijak dan positif dari seorang kakak kepada mereka tapi saya yang malah diajari mereka tentang kehidupan .

 

Selain itu, kebahagian yang lain adalah mendapat teman baru. Teman-teman relawan yang lain. Itu rejeki juga. Saling bertukar pandangan, mengingat sanggar berdiri karena kepeduliannya terhadap pendidikan anak-anak. Maka saling berbagi ilmu kepada anak, menyebar kebaikan, mengajari kasih pada sesama dan satu visi-misi yang membuat kita bersatu. Dan saya jatuh cinta padanya… Yah benar, jatuh cinta pada Sanggar Merah Merdeka.

 

 

Caecilia Feninda

Alumni Anak Sanggar Merah Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.